Sabtu, 12 Februari 2011

Revitalisasi Gerak HMI

(Kado Buat Musda KAHMI Banda Aceh) 

* Ampuh Devayan


HIMPUNAN Mahasiswa Islam (HMI) sering disebut “hangat mesra intim”. Ini bermakna agar setiap kadernya mampu memperbaiki, menyambung yang terputus, merekat yang terpecah. Mengingat kebaikan pihak lain, dan melupakan kebaikan kita. Berpikir positif tidak menebar ghibah, memperbaiki niat, meneguhkan idea, dan meluruskn cita-cita. Nah, jika ada yang tidak memiliki kemauan semacam ini. Maka marilah  kita jangan mengaku seorang yang cendekia, seorang kader HMI, apalagi mengaku beragama.


Sebagai bagian dari umat Islam, kader HMI dan alumninya haruslah menjadi saksi, melakukan kepeloporan dalam perjuangan mengawal bangsa untuk mewujudkan keadilan dan memajukan kesejahteraan masyarakat. Sebab tanggungjawab ini yang telah mengilhami kelahiran HMI pada tanggal 5 Februari 1947 lalu, diprakrsai para sepuh HMI Lafran Pane dan kawan-kawan. Hari ini HMI telah melahirkan begitu banyak alumni yang berkiprah dalam berbagai sektor pemerintah dan non pemerintah. Beban sejarah itu yang saat terpundak pada penerus--para kader yang pernah dididik dan dibentuk HMI. Setiap kader mesti memahami hal itu sebagai wujud keimanan dan kesaksiannya dalam menegakkan kebenaran ilahi, dilaksanakan melalui kerja kemanusiaan berdasarkan kualitas akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam. Kesadaran tersebut harus menjadi landasan kerja-kerja kader HMI. Karenanya bicara soal HMI adalah bicara soal rakyat. Perjuangan HMI adalah perjuangan untuk kepentingan masyarakat luas. Hal ini harus ditunjukkan dalam karya nyatanya.

Pertanyaan-nya bagaimana kiprah HMI saat ini, jika dilihat pada kader dan alumninya? Sekarang, marila kita membaca! Betapa banyak persoalan yang dihadapi HMI. Sungguh itu, bukanlah karena faktor-faktor sederhana, tetapi lebih dari suatu konsekwensi logis, dari semakin rapuhnya fondasi-fondasi dasar yang selama ini menjadi penyangga HMI. Fondasi dasar yang semakin mengkahwatirkan adalah memudarnya budaya intelektual, rendahnya motivasi beramal secara ikhlas, memudarnya pinsip-prinsip silaturahmi yang dilandasi keberimanan. Ini berbias pada semakin tumbuh-kembangnya budaya tanding, dan kuatnya arus politik kepentingan yang jauh dari semangat inklusifitas dan pluralitas. Melemahnya daya kritis HMI dan kurang responsnya HMI terhadap berbagai masalah yang berkembang dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat menegaskan HMI hanya pandai berapologi (pembelaan/pembenaran) dan tidak bisa melakukan perbuatan nyata, lemahnya networking (jaringan kerja), lemah dalam bidang informasi, publikasi, dokumentasi. Diperparah lagi banyak anggota/pengurus HMI tidak memiliki sifat amanah, pamrih dalam berjuang, kurang dilandasi dengan semangat ikhlas. Maka akan sangat pantas kegeramanan al-marhum Nurchalis Madjid (mantan Ketua Umum PB HMI dua periode), pada tahun 2003 lalu, yang menegur dengan kerasnya “bila HMI tidak bisa melakukan perubahan, lebih baik membubarkan diri”. Peringatan ini oleh Prof. Agussalim dimaksudkan sebagai shock therapy, dengan harapan HMI mampu melakukan perubahan terhadap dirinya yang banyak kalangan dipandang bahwa dalam tubuh HMI ditemukan berbagai kekurangan yang memberi citra negatif.

Mesti ada format
Sebenarnya HMI memiliki kekuatan dan format serta arah perjuangan yang jelas sebagai panduan gerakan. Dalam salah satu buku yang ditulis Prof. Dr. Agussalim Sitompul (baca: indikator kemunduran HMI) sejak lahirnya HMI 5 Februari 197, HMI memiliki citra baik positif maupun negatif.  Sisi positif antara lain HMI merupakan organisi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di Indonesia yang memiliki banyak anggota dan alumni. Turut memberi andil besar bagi pembentukan cendikiawan muslim dan berkontribusi terhadap pembinaan generasi muda Indonesia sehingga turut memberi andil bagi pembangunan bangsa dalam bentuk pemikiran. Secara kultural HMI dapat mengembangkan pemikiran-pemikiran yang inovatif dan telah melakukan alih generasi dengan tertib serta banyak dipublikasi oleh media.

Dalam kontek itulah, menjadi penting sekarang untuk memperkuat kembali peran HMI sebagai organisasi kader intelektual yang harus berbuat sesuatu yang nyata bagi masyarakat. Karena diakui atau tidak, bahwa peran kontribusi riil ini terasa makin melemah. Penyebabnya sungguh sederhana, yaitu karena para kader dan alumni HMI keluar dari landasan ideal, konstitusional, dan kultural organisasinya, sehingga setiap kemelut, konflik internal selalu dipandang dalam kepentingan-kepentingan sesaat. Saat ini penting suatu kesadaran kolektif para kader HMI dan alumni; kesadaran bahwa alumni HMI sebagai bagian anak bangsa dan anak umat, mengemban tanggungjawab untuk memberikan andil terbaiknya dalam wilayah pemikiran dan gerakan kepejuangan yang berpihak pada kebenaran dan keadilan. Karenanya dimensi idea dan  professional yang dimiliki setiap personal harus berujung pada penguatan kapasitas kecendekiaan yang diharapkan mampu memberikan inovasi terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat. Kedua dimensi (ideal dan profesional) ini harus saling bertaut. Dan ini akan bisa diwujudkan ketika pelakunya memiliki kesadaran yang satu, cita-cita yang satu, kepentingan yang satu.

Saatnya kader HMI memintal ulang benang merah sejarah untuk merekat kembali berbagai kepentingan menjadi satu kepentingan besar mewujudkan masyarakat cita yang adil makmur dalam ridha Allah swt. Maka marilah agar saling bicara, sehingga dapat menemukan kata sepakat  bagaimana perjuangan dalam bingkai HMI untuk mencitakan dan meimplementasikan apa yang bisa dilakukan hari ini, besok, dan ke depan.  Saling bicara untuk satu kepentingan perjuangan merupakan watak indepedensi HMI sebagaimana telah dipersonifikasikan seorang Lafan Pane pada tahun-tahun pemulaan riwayat organisasi ini. Identitas fundamental ini bukan hanya terletak pada netralitas keilmuan, tidak pula pada pandangan keagamaan, tetapi pada sikap kritis dan etisnya dalam memandang dan mencari kebenaran. Struktur fundamental independensi itu harus diletakkan pada kesediaan dan keteguhan setiap kader dan alumni HMI. Sehingga mampu menjadi sumber energi moral dan intelektual bagi kadernya dalam menjalankan misi organisasi ini.

Musyawarah Daerah Korp Alumni HMI Kota Banda Aceh yang dimulai hari ini, Sabtu (15/01/2011), diharapkan menjadi penanda bagi bangkitnya kembali kesadaran kolektif atas idea dan cita HMI tanpa mengedepankan sikap eklusifisme pandangan keagamaan maupun sikap politik yang sempit. Siapa pun di antara kader yang telah “dididik” di HMI harus memiliki kesadaran akan hal itu. Mau tidak mau, suka tak suka, bahwa HMI dan alumninya dituntut kiprahnya untuk terus membangun bangsa; membangun sebuah peradaban yang tak cuma mengandalkan kekuatan intelek dan profesionalitas, tetapi diletakkan di atas landasan tumpu nilai-nilai agung kemanusiaan dan keagamaan secara universal. Dan bagi seorang kader sejati, akomodasi terhadap umat Islam dan bangsanya adalah sebuah gerak sejarah yang tak tehindarkan.

Korp Alumni HMI (Kahmi), yang merupakan wadah para alumni HMI, perlu menselaraskan penyamaan persepsi, tidak menjadi kino-kino apalagi “kuda tunggangan” baik kekuatan politik maupun kekuasaan yang dapat menyeret misi dan cita perjuangan HMI tanpa karakter. Artinya, perbedaan-perdedaan pandang dan istimasi yang terjadi bisa dinegosiasikan tanpa benturan. Bagi HMI, mewujudkan masyarakat cita merupakan ultimate goal (tujuan akhir) dari misi organisasi ini.  Selamat bermusyawarah. Yakin Usaha Sampai ***

*Penulis adalah alumni HMI Banda Aceh, wartawan harian Serambi Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar